Selasa, 30 November 2010

Adakah Kehidupan setelah mati??

Adakah Kehidupan Setelah Mati?



Adakah kehidupan lain setelah suatu makhluk mengalami kematian? Apakah kematian merupakan akhir dari kehidupan dan akhir dari segala-galanya? Apakah suatu makhluk yang mati akan musnah tak berbekas? Ke manakah makhluk hidup pergi setelah mati? Benarkah ada alam surga dan neraka? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa mengusik pikiran umat manusia sejak dahulu kala.

Banyak orang yang menyangsikan adanya kehidupan setelah kematian. Raja Pâyâsi yang memerintah Kota Setavyâ adalah salah satu contohnya. Di hadapan Kûmara Kassapa Thera, beliau mengungkapkan pandangan bahwa tidak ada kehidupan lampau maupun mendatang, tidak ada makhluk yang terlahirkan dengan seketika, dan tidak ada akibat dari perbuatan baik maupun buruk. Ketika ditanya apa alasan yang membuat beliau berpandangan demikian, Raja Pâyâsi mengisahkan bahwa beliau mempunyai menteri, saudara serta kerabat yang sering berbuat jahat; membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berdusta… Sewaktu mereka sakit keras dan akan meninggal dunia, beliau berpesan apabila mereka masuk ke alam neraka karena akibat kejahatan yang diperbuat agar datang memberitahu beliau. Mereka menyanggupi pesan ini. Akan tetapi, tidak ada seorang pun di antara mereka yang datang kendati waktu telah berlangsung cukup lama. Inilah yang menjadi alasan bagi beliau untuk menolak adanya kehidupan mendatang... Kûmara Kassapa Thera menanggapi alasan ini dengan sebuah perumpamaan tentang penjahat. Ada penjahat yang telah tertangkap basah dan akan dihukum mati karena perbuatannya. Ketika hukuman ini akan dijalankan, dia meminta izin untuk pulang memberitahu sanak-keluarganya terlebih dahulu. Apakah dia akan diizinkan? Tentunya tidak! Demikian pula, mereka yang masuk ke alam neraka, tidak mendapat izin kembali ke alam manusia untuk menyampaikan kabar.

Raja Pâyâsi mengemukakan alasan lain. Beliau pernah berpesan kepada menteri, saudara serta kerabat yang suka berbuat baik agar datang memberitahu beliau apabila masuk ke alam surga. Tak satu pun di antara mereka ada yang datang meskipun sudah berjanji akan kembali menemui beliau. Hal inilah yang membuat beliau tidak mempercayai adanya kehidupun mendatang... Kûmara Kassapa Thera memberikan perumpamaan tentang orang yang terjatuh ke dalam lubang lumpur. Setelah ditolong, diangkat ke atas, tubuhnya dibersihkan dan didandani dengan pakaian, wewangian serta perhiasan yang mewah, dan dihibur dengan kenikmatan lima indera; apakah dia ingin masuk ke dalam lubang lumpur lagi? Raja Pâyâsi menjawab: “Tidak!” Mengapa? Karena lubang lumpur itu kotor, berbau busuk, dan menjijikkan. Demikian pula, manusia merupakan makhluk yang kotor, berbau busuk dan menjijikkan bagi para dewa. Bagaimana mungkin mereka yang berbuat baik dan masuk ke alam surga akan datang kembali ke alam manusia untuk memberitahu?

Kûmara Kassapa Thera memberikan penjelasan tambahan bahwa waktu di dunia ini tidaklah sama dengan waktu di alam surga. Semakin tinggi tingkat alamnya, semakin lama pula perbedaan waktunya. Waktu seratus tahun di dunia ini sebanding dengan satu hari satu malam waktu di Surga Tâvatiæsa, misalnya. Usia rata-rata makhluk di sana sekitar 1,000 tahun kedewaan. Para dewa mungkin berpikir kita bersenang-senang di sini selama dua tiga hari dahulu, baru kemudian pergi menemui Raja Pâyâsi. Karena perbedaan waktu, beliau mungkin telah meninggal dunia saat itu. “Tetapi,” bantah Raja Pâyâsi, “Bagaimana bisa diketahui bahwa dewa di Surga Tâvatimsa mempunyai waktu yang lama seperti itu? Saya tidak mempercayainya!” Kûmara Kassapa Thera memberikan perumpamaan tentang orang buta sejak lahir. Ia mungkin tidak percaya adanya warna merah, hitam, putih serta lainnya, dan juga mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang mampu melihat warna-warna tersebut. Apakah pendapat orang buta itu dapat dibenarkan? Tentunya tidak. Ada pertapa atau brahmana yang tinggal di tempat sunyi, senantiasa waspada, dan mengembangkan usaha dalam pemusatan batin hingga mencapai ‘mata kedewaan’ (dibba-cakkhu), yang melebihi kemampuan mata biasa. Dengan mata kedewaan ini, mereka dapat melihat kehidupan lain dan makhluk-makhluk yang terlahirkan dengan seketika. Masalah kehidupan lampau tidak seharusnya dimengerti hanya berdasarkan apa yang bisa dilihat dengan mata biasa.

Raja Pâyâsi mengatakan bahwa beliau pernah melihat ada pertapa dan brahmana yang mempunyai kesilaan luhur. Mereka tetap mencintai kehidupannya, dan tidak ingin mati; masih mendambakan kebahagian, dan tidak menginginkan penderitaan. “Jika merasa yakin bahwa dengan melaksanakan kesilaan mereka pasti terlahirkan kembali di alam surga, mengapa mereka tidak mencoba bunuh diri dengan meminum racun, menggantung leher, atau meloncat ke jurang?,” tanya Raja Pâyâsi. Kûmara Kassapa Thera memberikan perumpamaan tentang dua orang istri yang ditinggal mati suami. Yang pertama mempunyai anak berusia sepuluh tahun, sementara yang kedua sedang mengandung tua. Si anak menagih warisan kepada ibu tirinya. Sang ibu meminta kelonggaran waktu untuk memastikan apakah anak yang sedang dikandungnya laki laki atau perempuan. Pada zaman itu, hanya anak laki-laki yang berhak atas kekayaan peninggalan orangtuanya. Si anak tidak sabaran, dan terus-terusan mendesak. Sang ibu akhirnya mengambil jalan pintas dengan membedah perutnya sendiri. Dengan berbuat demikian, tidak hanya jiwa anaknya yang terancam, tetapi juga kehidupannya sendiri, dan ia niscaya tidak akan memperoleh bagian dari harta kekayaan suaminya. Orang bijaksana tidak akan menempuh jalan pintas semacam ini. Demikian pula halnya dengan para pertapa dan brahmana. Meskipun yakin atas kehidupan yang akan datang, mereka tidak akan memetik buah yang belum waktunya masak. Mereka menempuh kehidupan secara wajar demi kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar